“Belajar Membaca” Adalah Cara Ampuh agar Mudah Menulis

Salah satu penyebab seseorang sulit menulis adalah tidak/jarang “belajar membaca”.

Abul Muamar

Di tulisan sebelumnya, Menerbitkan Buku Itu Mudah, Menulis Tidak, Bung Jep menyampaikan bahwa menulis itu tidak mudah. Banyak penulis yang memberi wejangan‒yang karena sering disampaikan sehingga terdengar klise, tetapi pada kenyataannya sulit dilakukan‒ kepada siapa pun yang hendak belajar menulis, yaitu membaca, membaca, membaca, baru menulis.

Akan tetapi, bekal membaca belum tentu sepenuhnya membuat seseorang mahir menulis. Sekalipun bacaannya banyak. Hal tersebut yang disampaikan oleh Abul Muamar dalam Membaca dan Belajar Membaca (sahabatgorga.id). Seorang guru yang sudah menyelesaikan studi Magister merasa belum bisa menulis. Maka dia meminta kepada Abul agar diajari menulis. Padahal guru tersebut mengaku banyak membaca buku, suka membaca. Sudah hampir seribu buku yang dia tamatkan. Toh, dia juga sudah menyelesaikan kuliah. Lalu, gimana dong proses selama menulis tugas akhir? Barangkali “menulis” dalam konteks guru tersebut berbeda antara menulis tugas akhir dengan tulisan yang ingin dihasilkan dari diajari menulis.

Lagi, teman Abul mengaku pernah membaca habis buku 400-an dalam waktu dua jam. Namun, dia juga kesulitan ketik a diminta menulis. Kedua orang tersebut tergolong keren dalam membaca, tapi tak berbanding lurus dengan kemampuannya menulis. Mereka mungkin membaca atas dasar hobi, kesukaan, mengisi waktu luang, mencari hiburan, dan lain sebagainya. Mereka membaca tidak bertolak dari keinginan menulis. Menurut Abul, dan Bung Jep menyepakatinya, salah satu penyebab seseorang sulit menulis adalah tidak/jarang “belajar membaca”.

“Belajar membaca” yang Abul maksud adalah mempelajari atau memahami rajutan teks bacaan secara saksama saat membaca sebuah teks. Seseorang perlu mempelajari bangunan atau sintaksis teks yang sedang dibaca. Mau tak mau hal tersebut juga berkaitan dengan logika kalimat. Ketika seseorang “belajar membaca” harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang kaidah berbahasa yang baik dan benar. Bung Jep sedikit punya pengalaman. Ada sebuah tulisan yang pada dasarnya menarik secara gagasan, tetapi penulis tersebut kurang memahami penggunaan kata penghubung, tanda baca untuk memenggal, kapan harus menggunakan kalimat langsung kapan mengubahnya menjadi kalimat tak langsung. Ketika aspek tersebut tak diperhatikan, tulisan jadi tak terbaca. Menurut Bung Jep dua hal yang penting, yaitu koherensi dan kohesi. Koherensi adalah kepaduan secara ide atau gagasan, sementara kohesi adalah kepaduan penggunaan penanda bahasa sehingga timbul koherensi. Keduanya bekerja secara sejalan seirama.

Ternyata, membaca buku banyak saja belum cukup. Apabila Sahabat Jep hendak belajar menulis, “belajar membaca” yang disampaikan oleh Abul dapat menjadi semacam cara ampuh.

Artikel Terbaru

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *