Kalau kamu punya karya ilmiah murni, dorongan kecendekiaan kamu akan terlihat dari upaya menjadikan karya tersebut‒yang tak lain adalah melalui konversi menjadi buku‒ dapat dipahami secara luas dan kontekstual.
Ada sebuah dikotomi dalam karya ilmiah, yaitu antara ilmiah murni dan ilmiah populer. Secara bahasa, ilmiah murni menggunakan selingkung bahasa ilmiah yang cenderung teknis dan sulit, sedangkan ilmiah populer menggunakan bahasa umum yang lebih mudah dipahami pembaca umum. Selain itu, secara penyajian, ilmiah murni bersifat kaku dan sistematis sesuai dengan ketentuan publikasi yang ditetapkan, sedangkan ilmiah populer lebih fleksibel dan banyak menggunakan pengayaan materi.
Kadar keilmiahan karya ilmiah murni terasa lebih kental, terutama karya kesarjanaan (skripsi, tesis, dan disertasi) sehingga muncul upaya konversi menjadi lebih komunikatif dalam bentuk buku. Kalau kamu punya karya ilmiah murni, dorongan kecendekiaan kamu akan terlihat dari upaya menjadikan karya tersebut‒yang tak lain adalah melalui konversi menjadi buku‒ dapat dipahami secara luas dan kontekstual.
Konon, di Amerika terdapat jargon yang terkenal, publish or perish. Artinya, akademisi atau ilmuwan wajib menerbitkan karya publikasi, kalau tidak, lebih baik aku mundur alon-alon, mergo sadar aku sopo (Eh, nyanyi).
Selain itu, ada jargon untuk kamu yang seorang akademisi atau ilmuwan, yaitu “All scientists are the same, until one of them writes a book”. Jargon ini menunjukkan bahwa buku adalah ukuran bagi seseorang dapat diakui sebagai ilmuwan. Buku adalah legitimasi.





