Melalui jalan self-publishing kamu tak hanya berperan sebagai penulis.
Bung Jep
Bung Jep merasa sekarang banyak kok penulis-penulis baru bermunculan. Tentu penulis bukan dalam pengertian yang ‘wah’, keren, terkenal, dan intelektual, tapi bukan pula bermaksud memaknai penulis berkebalikan dengan empat deretan kata tersebut. Bukan semata-mata menyebut Peter Carey, Zoetmulder, Clifford Geertz, Karen Amstrong, Nietzsche, Ricard Dawkins, Syekh Siti Jenar, Ronggowarsito, Cak Nun, dan seterusnya ketika mendengar kata penulis. Penulis ya orang yang menulis, siapa pun mereka.
Apa sih yang membuat penulis-penulis baru eksis? Ya, jelas tulisannya dong. Namun, itu baru satu tahap yang wajib, yang kodrat. Yang kedua adalah buku. Dalam tahap tertentu, eksistensi jadi sebuah ‘impian’. Impian itu bisa kita turunkan lagi menjadi ‘menerbitkan buku’. Apalagi jika percaya ada ‘persaingan’ antar penulis, impian tersebut makin menggejala. Self-publishing atau menerbitkan buku sendiri jadi alternatif mewujudkan impian. Ia sempurna beriringan-sejalan dengan era digitalisasi.
Melalui jalan self-publishing kamu tak hanya berperan sebagai penulis. Ya, ada penerbit dalam dirimu. Bagaimana tidak? Kamu yang menulis secara langsung menghasilkan naskah, bahan baku menerbitkan buku. Jika dirasa naskah kamu sudah layak dan rapi, dengan ketentuan menarik secara gagasan dan sudah dibereskan tata tulis dan bahasanya, kamu bisa me-layout, dan membuat design sampul sendiri. Tutorial-tutorial bertebaran di internet. Tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan.
Yang tak kalah penting, karena menerbitkan buku sendiri, adalah modal. Modal berupa uang untuk biaya percetakan. Besarnya tergantung spesifikasi buku, seperti ketebalan, jenis kertas, dan jumlah eksemplar terbit. Dijamin menekan biaya, apalagi kamu sudah mengerjakan edit, layout dan cover sendiri. Agaknya yang perlu diperhatikan adalah ISBN. Tidak semua berangkat dari lembaga legal sebagai penerbit. Mereka adalah person-person, one man/woman show. Namun, tak perlu khawatir, kamu bisa menyerahkan urusan ISBN kepada penerbit.
Kamu bisa mengurusi tahap yang lebih lanjut, yaitu menentukan harga dan memasarkan buku. Perlu survei kecil-kecilan harga buku di pasaran. Membanding-bandingkan dan kamu bisa ambil harga rata-ratanya. Selain itu, tak kalah penting adalah memasarkan buku ke berbagai wadah. Paling dekat adalah melalui media sosial dan rekan-teman di sekitar.
Hampir semua persiapan atau kerja penerbit di atas Bung Jep yakin bisa kamu atasi. Seandainya belum, misal niat menerbitkan buku belum membara, kamu sibuk, tidak telaten, kurang berminat mengerjakan edit, layout, dan cover sendiri. Tenang, banyak penerbit (please deh, jangan baca ini Jejak Pustaka) yang menyediakan layanan tersebut. Yang kamu lakukan adalah menyiapkan naskah. Penerbit berkewajiban mewujudkan impianmu. Bagaimana pun caranya.





