penerbit buku

Sejarah Buku dan Penerbit di Indonesia, Mungkin Anda Belum Tahu!

Apakah kalian tahu pengertian buku? Buku menurut KBBI adalah lembar kertas yang berjilid, berisi tulisan atau kosong; kitab. Sementara itu untuk pengertian di khalayak umum kurang lebih sama dengan KBBI. Seiring berkembangnya zaman, kini telah ada e-book atau buku elektronik. Biasanya file berupa pdf. Nah, jauh sebelum itu tentu penerbit dan buku mengalami banyak perkembangan. Bagaimana sejarahnya? Artikel ini akan sedikit membahas mengenai sejarah buku dan penerbit khususnya di Indonesia:

  1. Melalui bukti yang ada, sejarah mencatat buku pertama lahir pada abad ke-9, yaitu lahirnya serat Ramayana. Saat itu Nusantara berada pada pengaruh Hindu. Ramayana sendiri merupakan kisah klasik dari India.
  2. Setelah itu tidak ada bukti terkait dengan buku. Pada era Majapahit dunia kepenulisan hidup lagi. Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama merupakan salah satu contohnya. Buku ini tertulis dalam bentuk syair tembang dalam 47 lembar lontar. Syair itu berisi 386 bait. Selesai pada September-Oktober 1365.
  3. Buku lainnya era Majapahit adalah kitab yang oleh Mpu Tantular tulis dengan judul Kakawin Sutasoma. Dari kitab inilah Indonesia mengadopsi istilah Bhineka Tunggal Ika.
  4. Era kerajaan Mataram Islam, para pujangga menulis syair terpengaruh tradisi Islam, khususnya Persia. Salah satu pujangga yang sangat masyhur adalah Ranggawarsita dari keraton Surakarta. Karya-karyanya antara lain, Serat Wirid Hidayat Jati, Serat Kalatidha, Serat Cebolek, Serat Jakalodhang, Serat Paramayoga, dll.
  5. Pada abad 19 lahir sebuah novel yang berjudul  Max Havelaar, penulisnya Multatuli (nama samaran dari Eduard Douwes Dekker). Novel ini terbit pada 1860, dan menjadi salah satu pemicu lahirnya Politik Etis.
  6. Tan Malaka (1897-1949) adalah salah satu pejuang Indonesia yang produktif menulis buku. Ada lebih dari 20 buku yang oleh Tan Malaka tulis, di antara buku-bukunya yang terkenal adalah Madilog dan Dari Penjara ke Penjara. Namun dua buku itu ditulis pada 1943 dan 1947-1948.
  7. Pada zaman Belanda, penerbitan buku dikuasai penuh oleh pemerintah Belanda. Muncul lembaga komisi bacaan rakyat didirikan oleh pemerintah Belanda pada 14 September 1908.
  8. Kemudian lembaga tersebut berubah nama menjadi Balai Pustaka pada 22 September 1917. Buku-buku terbitan Balai Pustaka berada pada pengaruh kekuasaan Belanda.
  9. Pada zaman Belanda, penerbitan buku bacaan berbahasa Melayu dikuasai oleh orang-orang Cina. Orang pribumi hanya bergerak dalam usaha penerbitan daerah.
  10. Pada tahun 1950-an penerbit swasta nasional mulai bermunculan. Banyak berkembang di Pulau Jawa dan Sumatra. Penerbit-penerbit tersebut ingin mengambil alih dominasi para penerbit Belanda.
  11. Pada tahun 1955, pemerintah RI mengambil alih semua perusahaan Belanda, termasuk penerbitan buku. Pada saat itu pemerintah RI, memberi subsidi dan bahan baku kertas bagi penerbit buku sehingga bisa menjual secara murah.
  12. Pemerintah kemudian mendirikan Yayasan Lektur yang bertugas mengatur bantuan pemerintah kepada penerbit dan mengendalikan harga buku. Menurut Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang didirikan 1950, penerbit yang menjadi anggota IKAPI yang semula berjumlah 13 pada tahun 1965 naik menjadi 600-an lebih.
  13. Orde baru. Pada zaman ini ada beberapa buku yang mengalami pemberedelan oleh pemerintah, sebab isinya mengandung isu-isu yang sensitif pada waktu itu. Misalnya buku karya Pramoedya Ananta Toer dan Slamet Muljana yang membahas bahwa asal mula orang islam di Indonesia adalah dari negeri Cina.
  14. Menurut Ajib Rosidi (sastrawan) secara garis besar penerbitan buku di Indonesia terbagi menjadi tiga jalur, usaha penerbitan buku pelajaran, usaha penerbitan buku bacaan umu, dan usaha penerbitan buku agama.
  15. Dunia buku dewasa ini, setelah lebih dari 70 tahun merdeka, tidak menunjukkan tanda yang menggembirakan. Jumlah judul buku yang terbit per tahun masih rendah. Tingkat minat baca buku masyarakat pun masih rendah. Berdasarkan data Ikapi tahun 2015, di Indonesia terdapat 1.328 penerbit buku.
  16. Era modern tidak seperti pada era orde baru. Teknologi yang semakin maju, membuat buku-buku yang terbit lebih variatif dan tidak ada larangan terbit untuk buku-buku tertentu yang mengganggu stabilitas kepemerintahan. Pada era ini sudah banyak kita jumpai e-book berbayar yang dapat kita akses melalui internet.

Itulah perjalanan singkat penerbitan dan buku di Indonesia. Cukup panjang dan melelahkan bukan? Nah bagi kalian yang punya naskah siap terbit, bisa hubungi Penerbit Jejak Pustaka. Penerbit Jejak Pustaka menyediakan paket penerbitan yang ramah dengan kantong.


Kontributor : Risen Dhawuh Abdullah

Artikel Terbaru

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *