Salah satu alasan adanya penerbit adalah mewadahi para penulis yang punya banyak ide dan tulisan tapi bingung cara membukukannya. Penerbit dalam satu sisi berperan sebagai penyedia jasa, tetapi di sisi lain memiliki andil agar buku yang diterbitkan benar-benar layak dibaca oleh pembaca. Oleh karena itu, penerbit harus memiliki tim yang solid dan mumpuni. Tim terdiri dari pemimpin redaksi, sekretaris redaksi, editor, layouter, illustrator atau desainer grafis, dan digital marketing. Tim tersebut adalah orang-orang penting dalam penerbit.
Akan tetapi, tahukah kamu ada orang yang lebih penting dari tim tersebut dalam dunia penerbitan?
Penerbit memerlukan bahan baku untuk diolah. Bahan baku ini berupa naskah atau tulisan. Tanpa bahan baku, penerbit akan kesulitan, kecuali sebuah tim dalam penerbit sekaligus seorang penulis. Mereka menulis sendiri dan menerbitkan sendiri. Atau mungkin mereka bagian dari lingkaran penulis. Artinya memiliki jejaring para penulis sehingga keterhubungan antar penulis relatif lebih mudah. Situasi tersebut sangat memungkinkan penerbit menerbitkan buku. Jika tidak, tak segan-segan penerbit akan mencari naskah dengan berbagai cara. Dapur penerbit harus terus mengepul.
Naskah menjadi kebutuhan mendasar, seperti halnya manusia membutuhkan sandang, pangan, dan Bung Jep papan. Kehadiran naskah akan memantik rangkaian aktivitas yang boleh dikatakan hiruk-pikuk.
Maka, kembali ke pertanyaan awal, orang penting dalam dunia penerbitan adalah kamu. Iya, kamu! Para penulis yang terus-menerus gelisah mengamati diri sendiri maupun lingkungan sekitar, para penulis yang berekspresi sekaligus mencari eksistensi (bahkan legitimasi), dan para penulis yang menulis karena ‘panggilan’ hati maupun tuntutan pekerjaan.
Agak sulit membayangkan penerbit memproduksi naskah sendiri, misal mengumpulkan berbagai artikel dari mesin pencari, dielaborasi dan disajikan. Mungkin terwujud, tetapi kekuatan gagasan akan berbeda. Gagasan yang otentik dan menarik lebih sering muncul dari penulis. Ada pergolakan batin dan intelektual terlebih dahulu dalam diri penulis sebelum karyanya lahir.
Naskah-naskah sebagai bahan baku penerbit lahir dari situasi penulis semacam itu. Tanpa bahan baku tersebut, penerbit bukanlah apa-apa, penerbit seperti benda yang ‘tergeletak’ begitu saja.





