menulis

Menulis Karya Ilmiah: Tiga Bahaya yang Sering Tidak Kamu Sadari

Orang-orang yang kerap berkecimpung dengan penelitian, pasti tidak asing dengan yang namanya karya ilmiah. Skripsi, jurnal, dan tesis adalah contoh karya ilmiah. Dalam penyusunnya, tentu saja harus melibatkan kaidah-kaidah tertentu. Namun, bukan tidak mungkin seorang yang sedang menyusun karya ilmiah mengalami tiga bahaya. Nah berikut, tiga bahaya yang dapat menimpa ketika menulis karya ilmiah.

  • Bahaya Ingin Mengutip Banyak Hal

Mengutip argumen atau pernyataan dari suatu sumber tentu tidak salah dalam penulisan karya ilmiah. Mengutip membuat gagasan yang kita tuliskan akan lebih kuat, sehingga pertanggungjawaban akan kebenarannya teruji. Namun perlu diingat, apabila kita terlalu banyak mengutip, juga bukan merupakan hal yang bagus. Orang yang membaca tulisan kita (baca: apabila terlalu banyak kutipan) mungkin akan bertanya, lalu di mana letak orisinalitas karyanya?

Bahaya ingin mengutip banyak hal, biasanya terjadi pada orang yang hanya tahu permukaan teori atau baru membaca beberapa karya ilmiah saja. Melihat tulisan karya ilmiah yang runtut dan sistematis secara kepenulisan milik orang lain, dapat memberikan kesan kalau si penyusun karya ilmiah tersebut seorang yang cerdas. Pada titik inilah bahaya itu muncul.

  • Bahaya Tidak Mengenali Pisau Analisis

Bahaya tidak mengenali pisau analisis dalam suatu penelitian menjadi salah satu faktor karya ilmiah tidak tergarap secara maksimal. Pisau analisis tidak lain adalah teori atau bacaan tertentu. Bagaimana maksudnya bahaya tidak mengenali pisau analisis dalam penulisan ilmiah?

Pada bagian pertama terdapat tulisan hanya tahu permukaan teori. Misalnya, seseorang yang hanya tahu suatu teori dari membaca beberapa karya ilmiah saja. Mungkin teori yang tersaji dalam karya ilmiah itu benar, tetapi perlu diingat, karya ilmiah juga terbatas oleh ruang. Tidak mungkin seorang penulis karya ilmiah memasukkan teori dari suatu sumber secara keseluruhan. Ia hanya menyampaikan konsep. Nah, maka dari itu mengenali pisau analisis langsung dari sumber utamanya menjadi penting. Bukankah ada pepatah, tak kenal maka tak sayang?

  • Bahaya Malas Menjelaskan Sampel Data

Bahaya malas menjelaskan sampel data biasanya terjadi pada mahasiswa yang sedang menggarap skripsi. Saat awal-awal penulisan skripsi, biasanya muncul semangat yang menggebu-gebu. Kecenderungan ini juga terkadang berkaitan dengan bahaya yang pertama. Namun, jelang menjelaskan sampel data yang akhir-akhir, banyak mahasiswa yang malas. Salah satu faktor munculnya rasa malas adalah jenuh karena sudah tahu alur penulisannya. Alhasil penjelasannya pun seadanya, bahkan parahnya ada yang tidak dijelaskan. Kesimpulan penelitian pun menjadi tidak maksimal.

Nah, itulah tiga bahaya yang dapat menimpa ketika hendak menulis karya ilmiah. Bagaimana denganmu? Apakah pernah mengalami bahaya lain?


Kontributor : Risen Dhawuh Abdullah

Artikel Terbaru

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *