Bila kita amati dengan saksama, masih banyak penulisan kata di yang salah. Jika Anda sedang keluar rumah, coba amati sepanjang jalan. Spanduk, baliho, pamflet, dan segala benda yang terdapat sebuah tulisan. Bagaimana tulisan kata di-nya? Apakah sudah benar?
Anda yang tahu akan aturan tata bahasa Indonesia mungkin saja akan kesal, saat mendapati kata di yang seharusnya sebagai imbuhan malah ditulis terpisah. Sedangkan penulisan kata di sebagai kata depan justru digabung. Sebenarnya, bagaimana sih penulisan yang benar? Kapan penulisan kata di serangkai dengan kata yang mengikutinya? Kapan terpisah?
Penulisan di yang Serangkai
kata di sebagai awalan ataupun imbuhan aturannya serangkai dengan kata dasar. Biasanya penulisan kata di yang demikian, bisa berubah menjadi kata kerja aktif. Berikut penjelasannya.
ditinggalkan (benar)
di tinggalkan (salah)
kata di pada kata ditinggalkan menjadikan kata tinggalkan (mendapatkan akhiran – kan) sebagai kata kerja pasif. Kata tinggal sendiri menurut KBBI mempunyai arti masih tetap idi tempatnya. Karena kata tinggalkan dapat menjadi kata kerja aktif, maka di adalah serangkai dengan kata yang menyertainya.
Penulisan di yang Terpisah
Aturan yang kedua ini biasanya berlaku untuk kata di sebagai kata depan atau menunjukkan tempat, nama, waktu, dan lokasi. Pada aturan yang kedua ini, kata yang mengikuti kata di biasanya tidak dapat diubah menjadi kata kerja aktif. Berikut penjelasannya.
di stasiun (benar)
distasiun (salah)
kata di pada kata di stasiun terpisah karena menunjukkan tempat. Apabila menambahkan imbuhan me pada kata stasiun tidak akan menjadi kata kerja aktif. Kata distasiun apabila kita hendak mencari maknanya juga tidak ada. Maka yang tepat adalah serangkai.
Begitulah aturan penulisan kata di, kapan saatnya serangkai, kapan saatnya tidak serangkai. Bagaimana, apakah Anda sudah paham? Sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman Anda, bisa mencari contoh kata-kata yang tersebar di mana saja, lalu mengeceknya dengan aturan yang tata bahasa Indonesia, apakah sudah sesuai atau belum?
Kontributor : Risen Dhawuh Abdullah





