Salah satu pengertian repetisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah gaya bahasa yang menggunakan kata kunci yang terdapat di awal kalimat untuk mencapai efek tertentu dalam penyampaian makna ulangan (sandiwara dan sebagainya).
Sementara itu, menurut Keraf (2006), repetisi adalah perulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai.
Tahukah kalian, ternyata repetisi terdiri dari beberapa ragam. Tentunya setiap repetisi mempunyai nama serta ciri khas yang berbeda-beda. Berikut keterangan mengenai beberapa ragam repetisi melansir dari narabahasa.id:
1. Epizeuksis
Repetisi ini melakukan pengulangan kata-kata yang dianggap penting. Presiden Joko Widodo pernah mengucapkan repetisi ragam ini. Adapun contohnya: “Supaya bisa maju dan diakui oleh dunia, kita harus bekerja, bekerja, dan bekerja.”
2. Tautotes
Tautotes adalah repetisi atas sebuah kata dalam satu konstruksi. Biasanya, pengulangan ini dilakukan untuk menegaskan makna kesalingan. Contohnya: “Aku menuduh kamu, kamu menuduh aku, aku dan kamu saling menuduh.”
3. Anafora
Anafora merupakan pengulangan kata atau frasa pertama pada setiap baris atau kalimat. Contohnya: “Maukah kamu menjadi pacarku? Maukah kamu menjadi pasangan hidupku?
4. Epistrofa
Repetisi yang disebut juga epistrofa ini merupakan kebalikan dari anafora, yakni pengulangan kata atau frasa terakhir pada setiap baris atau kalimat. Contohnya: “Kamu baik, sehingga mau jadi pacarmu. Kamu mau menolongku, sehingga mau jadi pacarmu.”
5. Simploke
Simploke adalah majas repetisi yang menggabungkan konsep anafora dan epistrofa. Contohnya: “Kamu bilang tidak akan pergi, nyatanya hilang juga. Kamu bilang akan selalu menemani, nyatanya hilang juga. Kamu bilang perasaan itu akan selalu sama, nyatanya hilang juga. Kamu bilang cinta ini abadi, nyatanya hilang juga.”
6. Mesodiplosis
Berbeda dengan anafora dan epistrofa, repetisi ini melakukan pengulangan kata atau frasa di tengah baris atau kalimat. Contohnya: “Ibu bilang, jangan jadi orang yang suka menyakiti hati manusia lain. Ayah juga berpesan, jangan jadi pembenci, meski dunia begitu kejam. Nenek berkata, jangan jadi aib buat keluarga sendiri.
7. Epanalepsis
Epanalepsis adalah pengulangan kata pada awal baris atau kalimat dan pada akhir baris atau kalimat. Contohnya: “Kita gunakan akal dan perasaan kita.”
8. Anadiplosis
Repetisi ini mengulang kata atau frasa terakhir menjadi kata atau frasa pertama pada baris atau kalimat berikutnya. Contohnya: “Di dalam hatiku, ada dirimu. Di dalam dirimu, ada kita. Di dalam kita, ada cinta. Di dalam cinta, ada kebersamaan. Di dalam kebersamaan, ada keabadian.”
sumber : narabahasa.id
Kontributor : Risen Dhawuh Abdullah





