huruf tebal

Fungsi Huruf Tebal Ternyata Berbeda dengan Huruf Miring, Simak Keterangan Simpel Berikut!

Kamu tentunya pernah ketika membaca sebuah kalimat, kamu mendapati ada kata yang tercetak tebal dan berwarna hitam. Dalam tipografi, ini sering disebut sebagai huruf tebal.

Pada dasarnya huruf tebal berfungsi untuk menekankan ataupun membuat sebuah penekanan pada suatu kata dalam sebuah kalimat. Terkadang ada yang menganggap bahwa fungsi huruf miring sama dengan huruf tebal.

Mengutip dari narabahasa.id, dalam perkembangan bahasa Indonesia, peran huruf tebal diatur di dalam Peraturan Menteri Pendidikan Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Huruf tebal digunakan untuk menegaskan bagian tulisan yang sudah ditulis miring. Misalnya:

Jancok juga bisa ditulis dengan jancuk.

Makna sera-sera dalam que sera-sera adalah ‘terjadilah’.

Dalam tiga contoh di atas, huruf tebal digunakan sebagai penegasan pada kata atau huruf yang sebelumnya sudah ditegaskan dalam bentuk cetak miring.

Dengan demikian, kita perlu hati-hati dalam menggunakan huruf tebal untuk menegaskan huruf atau kata tertentu. Pada mulanya, penegasan atau pengkhususan dilakukan dengan huruf miring. Setelah itu, barulah huruf tebal menjalankan fungsinya.

Selain itu, huruf tebal biasanya dipakai untuk menegaskan bagian-bagian pada laporan atau karya ilmiah seperti judul buku, bab, atau subbab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang/simbol, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.

Huruf tebal juga biasa ditemukan saat kita membuka kamus, yakni lema, sublema, serta lambang bilangan yang menyatakan polisemi.

Jadi kesimpulannya berikut fungsi huruf tebal:

  1. Huruf tebal berfungsi untuk menekankan ataupun membuat sebuah penekanan pada suatu kata dalam sebuah kalimat.
  2. Huruf tebal digunakan sebagai penegasan pada kata atau huruf yang sebelumnya sudah ditegaskan dalam bentuk cetak miring.
  3. Huruf tebal biasanya dipakai untuk menegaskan bagian-bagian pada laporan atau karya ilmiah seperti judul buku, bab, atau subbab, daftar isi, daftar tabel, daftar lambang/simbol, daftar pustaka, indeks, dan lampiran.
  4. Huruf tebal juga biasa ditemukan saat kita membuka kamus, yakni lema, sublema, serta lambang bilangan yang menyatakan polisemi.

Kontributor : Risen Dhawuh Abdullah

Artikel Terbaru

1 komentar untuk “Fungsi Huruf Tebal Ternyata Berbeda dengan Huruf Miring, Simak Keterangan Simpel Berikut!”

  1. Pingback: Pemutakhiran Kamus Besar Bahasa Indonesia Akhir Oktober 2022, Apa Saja yang Berubah? Berikut Keterangannya! -

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *