Menurut Ramlan (2012: 32) Morfem adalah satuan gramatik yang paling kecil; satuan gramatik yang tidak mempunyai satuan lain sebagai unsurnya.
Sementara itu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) morfem adalah satuan bentuk bahasa terkecil yang mempunyai makna secara relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil.
Untuk memudahkan pengenalan morfem, maka perlu mengetahui prinsip-prinsip morfem. Prinsip tersebut diabstraksi dari uraian Ramlan (2012: 37-44). Berikut keterangan lengkapnya!
1. Prinsip Pertama
Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik dan arti atau makna yang sama merupakan satu morfem. Misalnya satuan baju dalam berbaju, menjahit baju, baju biru, baju batik, adalah merupakan satu morfem karena satuan itu memiliki struktur fonologik dan arti yang sama.
2. Prinsip Kedua
Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologis yang berbeda merupakan satu morfem apabila satuan-satuan itu mempunyai arti atau makna yang sama, dan perbedaan struktur fonologiknya dapat dijelaskan secara fonologik.
Misalnya mem-, men-, dan meng- dalam kata membawa, mendukung, menggali memiliki arti yang sama dan struktur fonologisnya dapat dijelaskan secara fonologis. Yaitu, satuan-satuan yang muncul karena mengikuti konsonan /b/, /d/, dan /g/.
3. Prinsip Ketiga
Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang berbeda, sekalipun perbedaannya tidak dapat dijelaskan secara fonologik, masih dapat dianggap sebagai satu morfem apabila mempunyai arti atau makna yang sama, dan mempunyai distribusi yang komplementer (dapat diterapkan secara silih berganti).
Contohnya, bel– dalam kata belajar merupakan satu morfem dengan satuan ber– dalam berkebun atau be– dalam bekerja, sebab mempunyai makna yang sama dan dapat diterapkan secara silih berganti.
4. Prinsip Keempat
Apabila dalam deretan struktur, suatu satuan berparalel dengan suatu kekosongan, maka kekosongan itu merupakan morfem, ialah yang disebut morfem zero.
Misalnya dalam kalimat Dia makan roti, kata makan dipakai tanpa menggunakan me-. Morfem yang tidak ada dalam struktur disebut morfem zero.
5. Prinsip Kelima
Satuan-satuan yang mempunyai struktur fonologik yang sama mungkin merupakan satu morfem, mungkin pula merupakan morfem yang berbeda. Apabila satuan yang mempunyai struktur fonologik yang sama itu berbeda artinya, tentu saja merupakan morfem yang berbeda.
Dikatakan morfem yang sama jika maknanya berhubungan walaupun letaknya dalam kalimat tidak sama, misalnya kata duduk dalam kalimat Ia sedang duduk dan Duduk orang itu sangat sopan. Dikatakan morfem berbeda apabila artinya berbeda, misalnya kata buku berarti ‘kitab’ dan buku berarti “sendi’ atau kata mulut dalam kalimat Mulut gua itu lebar dan Mulut orang itu lebar.
6. Prinsip Keenam
Setiap satuan yang dapat dipisahkan merupakan morfem. Contohnya, di samping kata bersandar terdapat sandaran. Jelas bahwa bersandar terdiri dari satuan ber– dan sandar, dan satuan sandaran terdiri dari sandar dan –an. Maka ber-, sandar, dan –an masing-masing morfem sendiri-sendiri.
Nah, itulah 6 prinsip untuk memahami morfem. Bagaimana apakah sudah mengerti klasifikasi morfem seperti apa saja? Ikuti terus informasi ter-update seputar kebahasaan hanya di jejakpustaka.com!
Kontributor : Risen Dhawuh Abdullah





