Menerbitkan buku selalu dekat dengan hal-hal rumit, setidaknya itu menjadi anggapan kebanyakan orang. Mulai dari persaingan antar naskah yang menuntut kualitas hingga masa menunggu balasan dari redaksi atau penerbit yang lama. Hal ini kemudian menghambat beberapa orang untuk menerbitkan buku. Apalagi bagi mereka yang belum punya naskah atau hanya sekadar sebatas gagasan.
Perkembangan teknologi telah memberi efek kemudahan dalam menerbitkan buku. Melalui sistem POD atau print of demand, seorang penulis bisa mencetak buku beberapa eksemplar saja dan tidak memakan waktu yang lama. Dengan adanya sistem tersebut, memungkinkan lahirnya penulis-penulis potensial, yang selama ini tidak tampak karena pikiran-pikiran tentang penerbitan buku yang rumit.
Beberapa orang menganggap sistem tersebut selalu berkaitan dengan penerbitan self publishing. Ya, self publishing adalah sebuah jalur penerbitan yang tidak perlu menunggu waktu lama, mengubah naskah menjadi buku. Kemudahan yang ada tidak berarti naskah yang terbit menjadi buku tidak berkualitas. Berikut langkah-langkah supaya naskah yang akan terbit menjadi buku tetap berkualitas, meski lewat jalur self publishing.
Pertama, membuat kerangka naskah. Apabila sudah ada gagasan, langkah yang krusial adalah membuat kerangka. Dengan adanya kerangka naskah, memudahkan seorang penulis menuangkan gagasannya hingga dalam wujud naskah sepenuhnya. Hal ini juga dapat menjauhkan seorang penulis dari kebuntuan dalam menulis.
Kedua, jika naskah sudah selesai, selanjutnya melakukan pengeditan naskah, kemudian mengecek kesalahan kosakata atau proofreading. Apabila seorang penulis ingin melepaskan diri dari subjektivitas naskahnya, bisa menggunakan jasa seorang editor. Banyak orang meyakini cara tersebut cukup jitu untuk mencapai naskah yang berkualitas.
Ketiga, langkah selanjutnya layout dan membuat cover buku yang menarik. Menata tata letak naskah mempunyai fungsi supaya buku yang akan terbit menjadi enak dilihat oleh pembaca. Sedangkan cover yang menarik juga menjadi salah satu kunci pembaca akan melirik buku tersebut. Jika seorang penulis tidak mempunyai kemampuan keduanya, lebih baik menggunakan jasa layout dan pembuatan cover.
Keempat, mendaftarkan ISBN atau International Standard Book Number. Mengurusnya pun cukup mudah. Seorang penulis bisa datang ke perpustakaan nasional atau mengurusnya secara online. ISBN tetap bisa diberikan kepada buku dengan cetak buku satuan. ISBN berguna untuk kebutuhan penjualan buku. Bila seorang penulis tidak ingin repot, bisa menggunakan jasa yang ada pada penerbit self publishing.
Kelima, menyiapkan finansial. Oleh sebab menerbitkan dengan jalur cepat, maka seorang penulis haruslah menyiapkan finansial. Terlebih lagi bila tidak mau melewati proses edit, proofreading, dan mengurus ISBN sendiri.
Nah, itulah empat langkah yang harus ditempuh, bila akan menerbitkan buku secara mandiri. Sekali lagi, menerbitkan buku pada era sekarang ini, tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Seorang penulis bisa menerbitkan buku tanpa harus terkekang oleh aturan-aturan yang ada.
Kontributor : Risen Dhawuh Abdullah





