Skripsi merupakan salah satu syarat mahasiswa semester akhir untuk menempuh gelar sarjana. Sebelum mengerjakan, biasanya pada mata kuliah metode penelitian atau mata kuliah sejenisnya, dosen akan menanyakan beberapa hal. Salah satu yang menjadi pertanyaan adalah mengenai latar belakang penelitian.
Apabila dosen tidak mengatakan, “Wah kurang menarik latar belakangnya!”, maka si mahasiswa kemungkinan sudah paham akan hakikat latar belakang. Begitu juga sebaliknya. Singkatnya, pengertian latar belakang (baca: secara gampangnya) adalah alasan yang membuat seseorang mengambil suatu penelitian. Namun, tidak semua mahasiswa paham akan pengertian tersebut.
Ada setidaknya tiga penyakit akut yang turun-temurun dalam menyusun latar belakang. Apa saja penyakit itu? Berikut penjelasannya.
1.
Sering kita jumpai fenomena skripsi pada bagian latar belakang yang justru si peneliti dengan pedenya menjelaskan teori yang ia gunakan sebagai pisau analisis. Dengan pedenya ia mengutap-ngutip buku-buku yang ia gunakan (walaupun kadang kutipan itu tidak murni dari buku, melainkan dari sumber lain, misalnya jurnal, sebab terkadang mahasiswa malas membuka buku). Jelas hal ini bukan pada tempatnya, sebab teori sudah ada sendiri tempatnya, bukan pada latar belakang.
2.
Seperti pengertian yang sudah dijelaskan, latar belakang adalah bagian yang berisi alasan mengapa seorang penelitian mengambil topik yang ia pilih. Biasanya alasan ini mengundang rasa ketertarikan pembaca atau pendengar, karena berusaha mengungkap fakta yang berlainan dengan keadaan lapangan, sehingga kemudian hal inilah yang menjadi titik menariknya. Namun, sering kita jumpai fenomena seorang mahasiswa yang mengatakan “menarik” pada alasan mengambil topik tertentu. Nah, masalahnya si mahasiswa ini cuma mengatakan sebatas pada “menarik” saja, tetapi tidak menjelas hal-hal yang membuat alasan itu “menarik” atau dari sisi mana penelitiannya bisa mengarah pada hal “menarik”.
3.
Penyakit yang terakhir terjadi, biasanya karena peneliti atau mahasiswa terlalu terpaku terhadap penelitian yang sudah ada dan sejenis, sehingga si mahasiswa larut dalam pengertian istilah-istilah yang hanya gitu-gitu aja dan sebenarnya kurang ada korelasinya dengan topik penelitiannya. Misalnya ada sebuah skripsi dengan latar belakang pada paragraf pertama menjelaskan pengertian sastra adalah bla…bla…bla...
Maka yang terjadi si mahasiswa akan menirunya, seakan-akan pikirannya berkata paragraf pertama harus demikian. Padahal tidak. Lagi pula pengertian sastra adalah bla…bla…bla… sudah sering kita dengar. Kalau begitu mengapa harus mengungkapkan kembali? Bukankah hal itu bisa menjadi sesuatu hal yang tidak relevan sebab sudah sering disinggung? Coba renungkan juga, apa sih korelasinya pengertian tersebut dengan topik yang menjadi penelitian?
Itulah tiga penyakit yang masih ada hingga kini, yang diidap oleh beberapa mahasiswa dalam penyusunan skripsi. Semoga kamu tidak termasuk orang yang mengidap penyakit di atas ya. 🙂
Kontributor : Risen Dhawuh Abdullah






1 komentar untuk “Penyakit dalam Penyusunan Latar Belakang Skripsi! Kamu Wajib Tahu, Supaya Tidak Mengidap!”
Pingback: 4 Langkah Jitu Membuat Judul Buku yang Menarik -